Telecenter Joko Samudro Gresik Alamat Desa Karangsemanding Kec. Balongpanggang Kab. Gresik Telp. 0317922620 [ Pusat Layanan Masyarakat Berbasis Internet ]

Senin, 17 September 2012

Biji Kangkung Primadona Kabupaten Gresik Tembus Pasar Eksport

Kangkung. Ya, anda mungkin mengenal kangkung adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang cukup banyak penggemarnya. Biasanya kangkung ini sebagai pelengkap nasi pecel, urap-urap, sayur asem, cah kangkung, atau sayuran pelengkap bagi sambel sangat pedas.
Namun mungkin belum banyak yang tahu tentang kangkung kosmetik atau kangkung biji. Bentuk hampir sama, tapi kangkung jenis ini ternyata menjadi tanaman yang cukup prospektif dan menghasilkan. Pendapatan petani kangkung biji ini naik 5-6 kali lipat dari tanaman padi, jagung atau kedelai. Karena itulah, kini banyak petani beralih menanam kangkung kosmetik.

Misalnya, Bpk. H. Mustakim, 40, warga Dusun Karangasem, Desa Karangsemanding, Kec. Balongpanggang, Kab. Gresik mengatakan, sejak menanam kangkung kosmetik 18 tahun yg lalu, setiap panen bapak empat anak ini mampu mendapat keuntungan bersih Rp 7 juta perhektar. Harga jual biji kangkung kontrak Rp 11 ribu/kg. Jika menjualnya melalui luar kontrak harganya Rp 8.000/kg.
Selain di Dusun Karangasem, tanaman kangkung kosmetik juga dapat di temukan di sekitar wilayah Kec. Balongpanggang. Sudah lebih dari 18 tahun ini para petani menanam kangkung kosmetik. Disebut kangkung kosmetik karena kabarnya jenis kangkung ini untuk bahan kosmetik. Tapi juga ada yang mengatakan untuk bahan pembuatan olie dan yang pasti, kangkung yang di tanam di Dusun Karangasem ini adalah jenis kangkung kualitas eksport. Jepang, Thailand, Cina dan Belanda adalah tujuan utama tujuan eksport biji kangkung ini.
Daun Kangkung Kosmetik Juga Laku Tak hanya biji buahnya yang laku. Daun kering sisa panennya pun juga ada yang mau. Harganya pun berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 13 ribu untuk sekarung daun kering padat dengan bobot sekitar 30 kg. Tasrip, salah satu petani yang mengulak sisa panen daun kangkung, di antara warga yang beruntung. Beberapa kali dia mendapatkan keuntungan lumayan dari hasil mengulak sisa daun kangkung kering itu. “Untungnya lumayan sih,” kata Tasrip.

Tapi Tasrip kini mendapatkan saingan baru, karena para pemilik modal ternyata juga meminta sisa daun kangkung kering. Harganya pun bersaing sehingga petani yang dimodali mau tak mau menjualnya ke pemilik modal mengingat sudah ada perjanjian sebelumnya. Petani tak hanya menjual bijinya ke pemilik modal, daun keringnya pun harus dijual ke sana. “Ya nggak masalah, yang penting harganya cocok. Itu menjadi keuntungan tersendiri bagi kami,” kata Nur Hadi salah satu petani kangkung.

Dengan menanam kangkung kosmetik atau kangkung biji, pendapatannya sebagai petani lumayan bagus dibandingkan menanam jagung, tembakau, padi atau tebu. Selain perawatannya mudah, harganya juga signifikan. Ia mencontohkan, sawah seluas seperempat hektar kurang dalam waktu 3-4 bulan memperoleh pendapatan bersih Rp 3-4 juta. “Itu setelah dipotong benih, pupuk dan lain-lain dari pemilik modal atau pengepul,” kata Nur Hadi.

Sedangkan ketika dia menanam padi, hasilnya tidak sebagus menanam kangkung kosmetik. Dengan luas sawah yang sama, saat itu Nur Hadi hanya memperoleh Rp 3 juta kotor alias belum dipotong benih, pupuk, perawatan dan lain-lain. Memang ada sebagian warga yang tidak melanjutkan menanam kangkungnya karena beberapa waktu lalu dihantam anomali cuaca. Mereka banyak yang mengeluh, ketika musim panen tiba dan biji mulai mengering, tiba-tiba turun hujan.

“Hujan yang menyebabkan biji rontok dan tumbuh lagi. Dampaknya hasil panen tidak sesuai harapan, seperti yang dialami beberapa teman petani dari Desa Karangsemanding, akhimya banyak yang menghentikan penanamannya,” ujar Nur Hadi. Meski demikian, di lahan sawah tadah hujan itu warga Keeamatan Balongpanggang dan sekitamya harus kreatif memanfaatkan situasi. Tanpa ada kreativitas maka perkembangan pendapatan mereka dari sawah tidak memadai.(tc.js)

0 komentar:

Poskan Komentar