Telecenter Joko Samudro Gresik Alamat Desa Karangsemanding Kec. Balongpanggang Kab. Gresik Telp. 0317922620 [ Pusat Layanan Masyarakat Berbasis Internet ]

Sabtu, 13 September 2014

KWARTIR PRAMUKA BALONGPANGGANG GELAR PAWAI DAMAR KURUNG

GRESIK – Peringatan Hari Pramuka ke – 53, diperingati ratusan pelajar pramuka siaga (SD),  penggalang (SMP), penegak (SMA) dengan Pawai Damar Kurung, Sabtu Malam (14/9/14). Dengan membawa berbagai macam bentuk Damar Kurung seperti bintang, tunas kelapa ataupun ikan, mereka berjalan di sepanjang jalan Bumi Perkemahan Desa Tenggor, start dari Lapangan Bumper Tenggor – menuju jalan desa Tenggor dan Finish di Bumper Tenggor kembali.
Diawali dengan penampilan gugus depan pramuka dari SD/MI, dilanjutkan dari SMP/MTs dan SMA/ SMK/MA. Tiap gugus ada 12 angota pramuka, dengan total peserta malam itu ada 880 pramuka.  Sambil menyanyikan hymne-hymne pramuka dan yel-yel yang lain, ratusan pramuka ini tampak semangat sekali mengikuti pawai Damar Kurung. Pawai ini merupakan puncak dari rangkaian acara dari Perkemahan Besar tahun 2014 yang di selenggarakan pada 12-14 September 2014.
Sulaiaman (30), salah satu panitia penyelenggara yang di wawancarai oleh Telecenter Joko Samudro mengatakan, "Setiap tahun kami berusaha berinovasi dalam menyelenggarakan Perkemahan di tingkat Ranting. Untuk tahun ini kami mengangkat tema pelestarian budaya Gresik, yakni Damar Kurung. Mudah-mudahan pramuka di Kwartir Balongpanggang bias lebih baik," kata lelaki yang akrab di panggil Kak Sule ini.
Pawai damar kurung ini, dihadiri langsung oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik , Moh. Nadlif, yang sekaligus mewakili Bapak Bupati Gresik. Dan juga di hadiri Muspika Kecamatan Balongpanggang, dengan didampingi para kakak –kakak pembina pramuka dari Kwartir Ranting Pramuka. Dalam sambutan singkatnya ia mengatakan, pramuka merupakan sebuah gerakan untuk mendidik anggotanya menjadi pribadi yang cinta tanah air dan suka menolong. “Dengan pramuka saya berharap bisa menggerakkan jiwa-jiwa muda untuk selalu berkarya pada Gresik khususnya," ujar Moh. Nadlif.
Ia juga berharap pramuka kembali direvitalisasi agar ke depan bisa lebih berdaya guna. "Perkemahan di Kwartir Balongpanggang kali ini merupakan perkemahan terbesar tingkat Ranting di wilayah Kabupaten Gresik. Karena pesertanya mencapai 880 pramuka, jauh melebihi  peserta yang ada di Kwartir-kwartir di Kecamatan lain. Dan layak di sejajarkan dengan perkemahan tingkat Kwarcab.” Pungkas Moh. Nadlif. (TCJS)

Jumat, 12 September 2014

Perkemahan Besar Tahun 2014 Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Balongpanggang

Gresik – UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Balongpanggang bersama Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Balongpanggang akan mengadakan Perkemahan Budaya 2014 yang ditempatkan di Desa Tenggor kecamatan Balongpanggang pada tanggal 12 – 14 September 2014.
"Kegiatan Perkemahan Budaya ini merupakan event tahunan. Kali ini kita tempatkan di Desa Tenggor," kata Ketua panita penyelenggara, Dra. Aminah.
Menurutnya, kedatangan mereka ke Tenggor ini sekaligus ingin melaporkan rencana kegiatan Perkemahan Budaya ini kepada Bpk. Moh. Qosim, Wakil Bupati Gresik.
"Kami Kwaran Kecamatan Balongpanggang bersama jajaran dari UPT Dinas Pendidikan dan akan melaporkan rencana kegiatan event Ranting yang akan ditempatkan di desa yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Kecamatan Balongpanggang itu," ungkapnya.
Ia mengatakan, kegiatan perkemahan budaya local ini bertujuan sebagai ajang melestarikan budaya khas Kabupaten Gresik. "Kegiatan ini sangat positif karena para penggalang dan penegak akan saling mengenali, memahami, serta mengapresiasi keanekaragaman budaya Kabupaten Gresik di kalangan Pramuka," ungkapnya.
 Ia mengatakan, menjadi anggota pramuka dituntut agar bisa mencintai budaya nasional umunya dan budaya local khususnya dan tidak tergerus dengan perkembangan budaya eropa yang serba kebablasan. "Penggalang dan penegak pramuka ini akan mampu memilih mana budaya yang bagus dan mana budaya yang tidak pantas untuk ditiru," jelasnya.
Dra. Aminah menyampaikan, pelestarian budaya local harus dijaga secara maksimal sebagai kekayaan budaya yang ada di negeri ini."Akhir-akhir ini budaya kita di Indonesia banyak dicaplok oleh negara lain. Ini sungguh memprihatinkan sehingga kegiatan ini penting untuk dilaksanakan bagi generasi muda kita," tuturnya.
Kegiatan ini dihadiri seluruh gudep penggalang dan penegak sekecamatan Balongpanggang dengan total jumlah peserta mencapai 880 siswa.
"Setiap gudep mengutus satu regu yang terdiri dari dua belas orang termasuk pembina. Malah dari beberapa gudep ada yang akan mengirimkan lebih dari satu regu.," jelasnya.

"Menjadi anggota pramuka akan diberikan bimbingan bagaimana mencintai budaya nasional dan budaya daerah serta mampu menjaring budaya Eropa," ungkapnya. (TCJS)


Rabu, 03 September 2014

Shodiq Pribadi Naikkan Derajat Sangkar Burung

Wajah penuh harap kini bisa mudah dijumpai di Dusun Karang Asem, Desa Karangsemanding, Kecamatan Balongpanggang, Gresik. Begitu memasuki jalan kampung, bunyi desing penghalus langsung menyapa. Bersahutan dari rumah ke rumah. Di halaman, anak-anak muda dan orang tua bertelanjang dada tengah asyik  merangkai sangkar burung.
“Kami kini lebih optimistis menatap masa depan,” terang Edy Santoso, Kepala Desa Karang Asem ketika ditemui enciety.co.
Dusun  yang terletak sekitar 50 km dari Surabaya ini memang dikenal sebagai sentra sangkar burung.  Dari 140 kepala keluarga yang tinggal disana, 90  KK berprofesi sebagai perajin sangkar burung.
Menurut Edy, perajin sangkar burung kini memang menjadi profesi utama, mengalahkan pertanian yang telah jadi pekerjaan turun temurun. Sejatinya, usaha sangkar burung sudah turun temurun di  dusun ini. Hanya saja, saat itu masih bersifat sampingan. Sangkar yang dibuat pun bentuknya bulat dengan bahan dari rotan. Sangkar jenis ini biasanya dipakai untuk burung jenis perkutut dan puter. Daerah edarnya pun terbatas. Bahkan, produksi baru dilakukan setelah ada pesanan.
Adalah Shodiq Pribadi yang mengawali perubahan di daerah ini. Bapak dua anak ini bak Raja Midas. Sentuhan yang dilakukan membuat sangkar burung naik derajat, dari usaha sampingan menjadi home industry utama di daerah ini. Kuncinya, Shodiq melakukan inovasi dalam gerakan perubahan yang dilakukan.
Dia berpikir out of the box. Tampilan sangkar yang kaku dan bulat diubah. Shodiq lah yang mulai revolusi dengan mengenalkan sangkar bentuk kotak dan ramping. Bahan dasarnya pun diganti kaju jati. Untuk membuat eye catching,  sangkar dipoles dengan cat warna-warni yang menyolok mata. Tidak saja membuat burung yang ada di dalamnya betah tapi juga  asyik dipandang mata.
“Saya coba mengikuti selera pasar. Ini barangkali  yang membuat produk kami selalu diterima konsumen,” terang suami dari Sutatik.
Sebagai pioner, Shodiq tak pelit berbagi ilmu dengan tetangga dengan warga desa. Sebagian besar perajin di daerah ini adalah bekas anak buahnya. Toh, dia tak khawatir. Malah bersyukur dan mendorong siapapun untuk bisa mengikuti jejak suksesnya. “Yang saya jual kualitas,” tukasnya dengan senyum simpul.
Ya, produk Shodiq memang dikenal karena kualitasnya. Maklum,  ayah dari Agung Setyawan (20 tahun) dan Yahya Darmawan (15 tahun) ini mengerjakan dan mengawasi langsung proses produksi. Mulai pemilihan bahan sampai finishing.
Untuk bahan baku, Shodiq tak sembarangan ambil. Dia sengaja menjalin kerjasama dengan  salah satu pabrik pengolahan kayu jati di Gresik. Limbah kayunya dimanfaatkan untuk bahan  pembuat sangkar.  Ini bukan tanpa alasan.
Menurut Shodiq, dari sisi umur dan kualitas kayu sudah pasti  terjamin. “Lain bila ambil di galangan. Bisa saja umurnya masih muda tapi kayu jatinya sudah dipotong,” jelasnya.
Saat finishing, Shodiq pun pilih pakai cara manual. Meski makan waktu lama namun  hasil akhir terjamin. Ini yang membuat kadang dia kewalahan bahkan sampai menolak menerima order. “Kadang saya terpaksa menolak. Soalnya tenaganya tak sanggup,” ujarnya.
Sejatinya, Shodiq  tak kerja sendiri. Sehari-hari dia dibantu 20 karyawan. Toh, ini masih belum mampu melayani semua permintaan yang membludak. Bahkan,  sampai ada pelanggannya di Lumajang yang transfer lebih dulu agar bisa segera dibuatkan. “Biasanya memang seperti itu. Transfer lebih dulu baru sebulan berikutnya saya kirim,” ceritanya.
Sangkar burung yang dijual Shodiq terbagi dalam tiga ukuran yakni kecil dengan harga Rp 175 ribu, sedang Rp 275 ribu dan besar seharga Rp 400 ribu. Sangkar ini cocok  untuk burung jenis Kacer, Cudet, Cucak Ijo, Anis Merah, Murai Batu dan Cucak Rowo.
“Kalau ada yang pesan, tinggal saya tanya burungnya jenis apa, saya sudah tahu ukuran dan model sangkarnya seperti apa,” jelasnya.
Sebulan, Shodiq bisa memproduksi  sekitar 200 sangkar.  Selain Surabaya dan Gresik,   produksi Shodiq juga merambah ke Banyuwangi, Lumajang dan Bali. Menariknya, Shodiq tak perlu repot-repot mengirim barang ke sana.  Pelanggannya yang ambil sendiri. “Kalau untuk Surabaya, Gresik dan sekitarnya saya yang kirim,” ujarnya.
Dalam sebulan, Shodiq bisa meraup pendapatan berkisar  Rp 30-35 juta. Atas apa yang diraihnya ini, Shodiq sangat bersyukur. Pelan namun pasti, ekonomi keluarganya terangkat. Selain mampu membangun rumah,  sebuah mobil Suzuki Picku Up juga terpakir di garasi rumahnya.
“Alhamdulillah, ini berkat doa orang tua dan kerja keras selama ini,” pungkasnya. (wh)

sumber : http://www.enciety.co/shodiq-pribadi-sangkar-burung/

Jumat, 29 Agustus 2014

HUT RI ke-69, RS. Wali Songo I Mengadakan Pengobatan Gratis.


Gresik - Dalam rangka memperingati Hari RI ke-69, RS. Wali Songo I menggelar pengobatan gratis. Acara ini merupakan wujud kepedulian RS. Wali Songo I dalam membangun dan mewujudkan masyarakat yang sehat.

Kegiatan bakti sosial ini merupakan bentuk komitmen RS. Wali Songo I untuk memberikan pelayanan kesehatan sekaligus upaya untuk mewujudkan masyarakat yang sehat sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Bakti sosial ini diselenggarakan oleh RS. Wali Songo I bekerjasama dengan Pemerintah Desa Karangsemanding Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik yang notabene adalah lokasi berdirinya RS. Wali Songo I tersebut. Kegiatan ini di laksanakan di Balai Desa karangsemanding pada tanggal 29 Agustus 2014. Terdapat beberapa layanan kesehatan yang digelar dalam bakti kesehatan ini seperti, pemeriksaan kesehatan gratis serta donor darah.(tcjs.sam)

Selasa, 26 Agustus 2014

COKRO, PENGRAJIN SANGKAR BURUNG SUKSES DARI BALONGPANGGANG, GRESIK

Sebagai pengusaha sangkar burung di tempat asalnya yang selalu berbekal kreativitas, Samsul Arif seakan kerap lolos dari kesulitan. Lokasi usaha sangkar burung miliknya di Dusun Karangasem, Desa Karangsemanding, Kecamatan Balongpanggang ini pun begitu strategis. Tak heran, orang-orang yang melewati jalan ini jadi mudah melihat aneka sangkar burung yang dipajang bergantungan di depan rumah yang merangkap tempat kerjanya. Melihat beberapa orang mengerjakan pembuatan sangkar burung pun menjadi pemandangan sehari-hari di rumah Cokro, sapaan akrabnya. Ada pula beberapa pedagang sangkar burung dari berbagai daerah yang kulakan di tempatnya. Salah satu sangkar andalan Cokro adalah sangkar Kosan.

Sangkar Kosan memang paling disukai, meskipun harganya lebih mahal dibandingkan sangkar biasa. Harga pun tergantung model dan ukurannya. Harga satu sangkar burung Cokro berkisar antara Rp 120.000 – Rp 250.000 untuk sangkar yang masih mentah dan Rp. 260.000 – Rp. 400.000 untuk sangkar yang sudah di cat.

Dikisahkan Cokro, kawasan tempat tinggalnya adalah satu-satunya sentra kerajinan sangkar burung di Gresik. Saat ini, 90 % warga Dusunnya merupakan pengrajin sangkar burung.

Sebelumnya, Cokro, yang tamat SMP ini mengaku kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak hanya dengan ijazah SMP. Ia sempat bingung ketika belum juga dapat pekerjaan. Padahal dia harus bekerja untuk masa depanya. Saat itulah, ia melihat seorang temannya yang sedang membuat sangkar burung. Cokro pun tertarik untuk belajar membuatnya.

Sang teman pun tak keberatan membagi ilmu. Cokro akhirnya dengan tekun belajar, meski diakuinya, tak mudah membuat sangkar burung yang bagus. Semula ia bekerja di usaha sangkar burung milik teman. Niatnya saat itu memang untuk belajar. Tiga bulan kemudian, ia pun berhasil menguasai ilmu membuat sangkar burung. Menurut Cokro, sebenarnya pekerjaan membuat sangkar burung ini termasuk rumit dan butuh ketekunan.

Selanjutnya, Cokro bertekad mengembangkan usaha di rumahnya sendiri. Bermodal Rp 5.000.000 untuk membuat alat produksi dan kebutuhan lain, Cokro mulai menekuni usahanya.
Awalnya, Mulyono hanya sendirian melakoni usahanya. Tak mudah baginya menuai sukses. Setelah sangkar burung berhasil diproduksi, kendalanya adalah mencari pasarnya. Kala itu, pasar di Gresik belum bisa menampung karyanya. Cokro pun jadi teringat mempunyai kenalan di Surabaya. Ia paham Pasar Bratang Surabaya merupakan salah satu sentral penjualan burung dan sangkarnya. Ia pun kemudian membawa puluhan sangkar burung ke Surabaya menggunakan sepeda motor.

Sangkar burung karya Cokro yang terkenal halus dan rapih pun langsung memikat pedagang pasar di Surabaya. Ternyata, ia tidak kesulitan memasarkannya. Hanya saja, pedagang pasar sering membayar belakangan. Meskipun begitu, Cokro bersyukur usahanya bisa berjalan. Sejak itu, Cokro pun menjadi rutin ke Surabaya.

Sehingga seiring waktu, dalam menjalankan roda produksinya, Cokro tak bisa sendirian lagi. Ia pun mulai mencari karyawan. Uniknya, ia sengaja mencari pelajar yang kesulitan biaya sekolah. Kebanyakan dari anak-anak tidak mampu. Awalnya, mereka datang hanya sekedar ingin membantu-bantu. Namun oleh Cokro, sekalian saja mereka diajarkan membuat sangkar burung sampai bisa. Cokro pun tetap menggaji mereka meski masih tahap belajar. Setidaknya upah yang ia berikan bisa untuk memenuhi kebutuhan jajan mereka.  

Saat itu ada sembilan anak yang belajar di tempat Mulyono. Ia pun juga merasa terbantu. Mereka bekerja setelah pulang sekolah. Banyak di antara mereka yang sekarang punya pekerjaan bagus. Ada yang menjadi guru, ada juga yang menjadi polisi, bahkan ada yang menjadi perajin sangkar burung yang sukses.
Kian lama, usaha Cokro makin maju. Ia juga tak perlu capek-capek ke Surabaya lagi. Tiga tahun menekuni usaha, sudah banyak pedagang yang justru mendatanginya. Selain pedagang di Surabaya, ia juga memasok kebutuhan pedagang di berbagai kota. Tak hanya itu, ia juga punya relasi tokoh-tokoh penting di kotanya. Tetangga di sekitar rumahnya pun jadi heran, kala melihat ia bisa sesukses itu. Cokro pun telah berhasil membangun rumah dari usahanya ini.

Sebagai pengrajin, Cokro mengaku pendapatannya memang tak begitu besar. Berbeda kalau menjadi pengepul, penghasilannya bisa jauh lebih besar. Itu sebabnya belakangan ini Cokro pun juga mencoba menjadi pengepul. Ia mengambil sangkar burung dari belasan pengrajin dan menjualnya kembali.

Kini, dalam sebulan Cokro mampu memproduksi ratusan sangkar burung. Menurutnya, usaha sangkar burung sebenarnya tak kenal musim. Artinya, akan mampu terus bertahan. Namun ketika beberapa tahun silam kabar penyakit flu burung merebak, mau tak mau usahanya juga sempat oleng. Penyakit flu burung yang ramai diberitakan, akhirnya membuat orang takut memelihara burung. Otomatis usaha sangkar burung pun juga sulit bertahan. Untungnya, Cokro masih mampu bertahan. Sangkar burung karya Cokro pun sering pula diikutkan dalam berbagai acara pameran. Namun, ia sendiri memilih tak ikut langsung dalam acara pameran tersebut. Baginya, lebih baik tetap bekerja di rumah, membuat sangkar.

Sempat pula usahanya menyusut ketika merebak bisnis tanaman hias seperti gelombang cinta. Meski tak setelak kabar flu burung, tren tanaman hias itu juga sempat mempengaruhi usaha sangkar burungnya. Namun Cokro tetap menunjukkan sikap konsistennya. Ia meyakini, usaha pembuatan sangkar burung tak akan pernah benar-benar surut. Terbukti, ia sanggup bertahan dari tahun ke tahun. Tentu saja ia sangat bersyukur usahanya masih bisa terus bertahan. Apalagi, belakangan ini usahanya terus stabil.

Salah satu kunci untuk terus bertahan adalah, Cokro tak berhenti berkerasi berinovasi dan tentunya menjaga kualitas sangkar burungnya. Ia sanggup membuat aneka model sangkar, dari bentuk bulat, segi empat, segi delapan, dan beragam lainnya.
Mulyono pun mengaku akan terus setia dengan pekerjaannya, karena usahanya terbukti mampu menghidupi keluarganya. Dan ia pun masih ingin terus mengembangkan industri sangkar burung di tempatnya. (tcjs/sams)

CP : 085850033285
Pin BB : 7CD1B072