Telecenter Joko Samudro Gresik Alamat Desa Karangsemanding Kec. Balongpanggang Kab. Gresik Telp. 0317922620 [ Pusat Layanan Masyarakat Berbasis Internet ]

Selasa, 16 September 2014

Bupati Gresik Beri Honor RT dan RW

Gresik - Kabar gembira bagi para Ketua Rukun Tetangga (RT), dan Rukun Warga (RW) se-Kabupaten Gresik. Pasalnya, pemkab setempat segera mencairkan honor tahun 2014. Honor yang diterima sebesar Rp 400 ribu.

"Saya berharap honor ini jangan dilihat nominalnya tapi pada pengabdiannya," kata Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto, Selasa (16/9/2014).

Lebih lanjut dia mengatakan, total jumlah nominal yang di keluarkan untuk honor RT dan RW se-kabupaten Gresik ini lumayan besar. Dana yang dialokasikan untuk honor RT dan RW tahun 2014 sebesar Rp 3,16 miliar yang dibagi kepada sejumlah 7.910 RT/RW se-Kabupaten Gresik.

"Kalau suasana di wilayah seluruh RT dan RW di Gresik kondusif, maka suasana Kabupaten Gresik secara keseluruhan juga kondusif," ungkapnya. [sumber beritajatim.com]

Sabtu, 13 September 2014

KWARTIR PRAMUKA BALONGPANGGANG GELAR PAWAI DAMAR KURUNG

GRESIK – Peringatan Hari Pramuka ke – 53, diperingati ratusan pelajar pramuka siaga (SD),  penggalang (SMP), penegak (SMA) dengan Pawai Damar Kurung, Sabtu Malam (14/9/14). Dengan membawa berbagai macam bentuk Damar Kurung seperti bintang, tunas kelapa ataupun ikan, mereka berjalan di sepanjang jalan Bumi Perkemahan Desa Tenggor, start dari Lapangan Bumper Tenggor – menuju jalan desa Tenggor dan Finish di Bumper Tenggor kembali.
Diawali dengan penampilan gugus depan pramuka dari SD/MI, dilanjutkan dari SMP/MTs dan SMA/ SMK/MA. Tiap gugus ada 12 angota pramuka, dengan total peserta malam itu ada 880 pramuka.  Sambil menyanyikan hymne-hymne pramuka dan yel-yel yang lain, ratusan pramuka ini tampak semangat sekali mengikuti pawai Damar Kurung. Pawai ini merupakan puncak dari rangkaian acara dari Perkemahan Besar tahun 2014 yang di selenggarakan pada 12-14 September 2014.
Sulaiaman (30), salah satu panitia penyelenggara yang di wawancarai oleh Telecenter Joko Samudro mengatakan, "Setiap tahun kami berusaha berinovasi dalam menyelenggarakan Perkemahan di tingkat Ranting. Untuk tahun ini kami mengangkat tema pelestarian budaya Gresik, yakni Damar Kurung. Mudah-mudahan pramuka di Kwartir Balongpanggang bias lebih baik," kata lelaki yang akrab di panggil Kak Sule ini.
Pawai damar kurung ini, dihadiri langsung oleh Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik , Moh. Nadlif, yang sekaligus mewakili Bapak Bupati Gresik. Dan juga di hadiri Muspika Kecamatan Balongpanggang, dengan didampingi para kakak –kakak pembina pramuka dari Kwartir Ranting Pramuka. Dalam sambutan singkatnya ia mengatakan, pramuka merupakan sebuah gerakan untuk mendidik anggotanya menjadi pribadi yang cinta tanah air dan suka menolong. “Dengan pramuka saya berharap bisa menggerakkan jiwa-jiwa muda untuk selalu berkarya pada Gresik khususnya," ujar Moh. Nadlif.
Ia juga berharap pramuka kembali direvitalisasi agar ke depan bisa lebih berdaya guna. "Perkemahan di Kwartir Balongpanggang kali ini merupakan perkemahan terbesar tingkat Ranting di wilayah Kabupaten Gresik. Karena pesertanya mencapai 880 pramuka, jauh melebihi  peserta yang ada di Kwartir-kwartir di Kecamatan lain. Dan layak di sejajarkan dengan perkemahan tingkat Kwarcab.” Pungkas Moh. Nadlif. (TCJS)

Jumat, 12 September 2014

Perkemahan Besar Tahun 2014 Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Balongpanggang

Gresik – UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Balongpanggang bersama Kwartir Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Balongpanggang akan mengadakan Perkemahan Budaya 2014 yang ditempatkan di Desa Tenggor kecamatan Balongpanggang pada tanggal 12 – 14 September 2014.
"Kegiatan Perkemahan Budaya ini merupakan event tahunan. Kali ini kita tempatkan di Desa Tenggor," kata Ketua panita penyelenggara, Dra. Aminah.
Menurutnya, kedatangan mereka ke Tenggor ini sekaligus ingin melaporkan rencana kegiatan Perkemahan Budaya ini kepada Bpk. Moh. Qosim, Wakil Bupati Gresik.
"Kami Kwaran Kecamatan Balongpanggang bersama jajaran dari UPT Dinas Pendidikan dan akan melaporkan rencana kegiatan event Ranting yang akan ditempatkan di desa yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari Kecamatan Balongpanggang itu," ungkapnya.
Ia mengatakan, kegiatan perkemahan budaya local ini bertujuan sebagai ajang melestarikan budaya khas Kabupaten Gresik. "Kegiatan ini sangat positif karena para penggalang dan penegak akan saling mengenali, memahami, serta mengapresiasi keanekaragaman budaya Kabupaten Gresik di kalangan Pramuka," ungkapnya.
 Ia mengatakan, menjadi anggota pramuka dituntut agar bisa mencintai budaya nasional umunya dan budaya local khususnya dan tidak tergerus dengan perkembangan budaya eropa yang serba kebablasan. "Penggalang dan penegak pramuka ini akan mampu memilih mana budaya yang bagus dan mana budaya yang tidak pantas untuk ditiru," jelasnya.
Dra. Aminah menyampaikan, pelestarian budaya local harus dijaga secara maksimal sebagai kekayaan budaya yang ada di negeri ini."Akhir-akhir ini budaya kita di Indonesia banyak dicaplok oleh negara lain. Ini sungguh memprihatinkan sehingga kegiatan ini penting untuk dilaksanakan bagi generasi muda kita," tuturnya.
Kegiatan ini dihadiri seluruh gudep penggalang dan penegak sekecamatan Balongpanggang dengan total jumlah peserta mencapai 880 siswa.
"Setiap gudep mengutus satu regu yang terdiri dari dua belas orang termasuk pembina. Malah dari beberapa gudep ada yang akan mengirimkan lebih dari satu regu.," jelasnya.

"Menjadi anggota pramuka akan diberikan bimbingan bagaimana mencintai budaya nasional dan budaya daerah serta mampu menjaring budaya Eropa," ungkapnya. (TCJS)


Rabu, 03 September 2014

Shodiq Pribadi Naikkan Derajat Sangkar Burung

Wajah penuh harap kini bisa mudah dijumpai di Dusun Karang Asem, Desa Karangsemanding, Kecamatan Balongpanggang, Gresik. Begitu memasuki jalan kampung, bunyi desing penghalus langsung menyapa. Bersahutan dari rumah ke rumah. Di halaman, anak-anak muda dan orang tua bertelanjang dada tengah asyik  merangkai sangkar burung.
“Kami kini lebih optimistis menatap masa depan,” terang Edy Santoso, Kepala Desa Karang Asem ketika ditemui enciety.co.
Dusun  yang terletak sekitar 50 km dari Surabaya ini memang dikenal sebagai sentra sangkar burung.  Dari 140 kepala keluarga yang tinggal disana, 90  KK berprofesi sebagai perajin sangkar burung.
Menurut Edy, perajin sangkar burung kini memang menjadi profesi utama, mengalahkan pertanian yang telah jadi pekerjaan turun temurun. Sejatinya, usaha sangkar burung sudah turun temurun di  dusun ini. Hanya saja, saat itu masih bersifat sampingan. Sangkar yang dibuat pun bentuknya bulat dengan bahan dari rotan. Sangkar jenis ini biasanya dipakai untuk burung jenis perkutut dan puter. Daerah edarnya pun terbatas. Bahkan, produksi baru dilakukan setelah ada pesanan.
Adalah Shodiq Pribadi yang mengawali perubahan di daerah ini. Bapak dua anak ini bak Raja Midas. Sentuhan yang dilakukan membuat sangkar burung naik derajat, dari usaha sampingan menjadi home industry utama di daerah ini. Kuncinya, Shodiq melakukan inovasi dalam gerakan perubahan yang dilakukan.
Dia berpikir out of the box. Tampilan sangkar yang kaku dan bulat diubah. Shodiq lah yang mulai revolusi dengan mengenalkan sangkar bentuk kotak dan ramping. Bahan dasarnya pun diganti kaju jati. Untuk membuat eye catching,  sangkar dipoles dengan cat warna-warni yang menyolok mata. Tidak saja membuat burung yang ada di dalamnya betah tapi juga  asyik dipandang mata.
“Saya coba mengikuti selera pasar. Ini barangkali  yang membuat produk kami selalu diterima konsumen,” terang suami dari Sutatik.
Sebagai pioner, Shodiq tak pelit berbagi ilmu dengan tetangga dengan warga desa. Sebagian besar perajin di daerah ini adalah bekas anak buahnya. Toh, dia tak khawatir. Malah bersyukur dan mendorong siapapun untuk bisa mengikuti jejak suksesnya. “Yang saya jual kualitas,” tukasnya dengan senyum simpul.
Ya, produk Shodiq memang dikenal karena kualitasnya. Maklum,  ayah dari Agung Setyawan (20 tahun) dan Yahya Darmawan (15 tahun) ini mengerjakan dan mengawasi langsung proses produksi. Mulai pemilihan bahan sampai finishing.
Untuk bahan baku, Shodiq tak sembarangan ambil. Dia sengaja menjalin kerjasama dengan  salah satu pabrik pengolahan kayu jati di Gresik. Limbah kayunya dimanfaatkan untuk bahan  pembuat sangkar.  Ini bukan tanpa alasan.
Menurut Shodiq, dari sisi umur dan kualitas kayu sudah pasti  terjamin. “Lain bila ambil di galangan. Bisa saja umurnya masih muda tapi kayu jatinya sudah dipotong,” jelasnya.
Saat finishing, Shodiq pun pilih pakai cara manual. Meski makan waktu lama namun  hasil akhir terjamin. Ini yang membuat kadang dia kewalahan bahkan sampai menolak menerima order. “Kadang saya terpaksa menolak. Soalnya tenaganya tak sanggup,” ujarnya.
Sejatinya, Shodiq  tak kerja sendiri. Sehari-hari dia dibantu 20 karyawan. Toh, ini masih belum mampu melayani semua permintaan yang membludak. Bahkan,  sampai ada pelanggannya di Lumajang yang transfer lebih dulu agar bisa segera dibuatkan. “Biasanya memang seperti itu. Transfer lebih dulu baru sebulan berikutnya saya kirim,” ceritanya.
Sangkar burung yang dijual Shodiq terbagi dalam tiga ukuran yakni kecil dengan harga Rp 175 ribu, sedang Rp 275 ribu dan besar seharga Rp 400 ribu. Sangkar ini cocok  untuk burung jenis Kacer, Cudet, Cucak Ijo, Anis Merah, Murai Batu dan Cucak Rowo.
“Kalau ada yang pesan, tinggal saya tanya burungnya jenis apa, saya sudah tahu ukuran dan model sangkarnya seperti apa,” jelasnya.
Sebulan, Shodiq bisa memproduksi  sekitar 200 sangkar.  Selain Surabaya dan Gresik,   produksi Shodiq juga merambah ke Banyuwangi, Lumajang dan Bali. Menariknya, Shodiq tak perlu repot-repot mengirim barang ke sana.  Pelanggannya yang ambil sendiri. “Kalau untuk Surabaya, Gresik dan sekitarnya saya yang kirim,” ujarnya.
Dalam sebulan, Shodiq bisa meraup pendapatan berkisar  Rp 30-35 juta. Atas apa yang diraihnya ini, Shodiq sangat bersyukur. Pelan namun pasti, ekonomi keluarganya terangkat. Selain mampu membangun rumah,  sebuah mobil Suzuki Picku Up juga terpakir di garasi rumahnya.
“Alhamdulillah, ini berkat doa orang tua dan kerja keras selama ini,” pungkasnya. (wh)

sumber : http://www.enciety.co/shodiq-pribadi-sangkar-burung/

Jumat, 29 Agustus 2014

HUT RI ke-69, RS. Wali Songo I Mengadakan Pengobatan Gratis.


Gresik - Dalam rangka memperingati Hari RI ke-69, RS. Wali Songo I menggelar pengobatan gratis. Acara ini merupakan wujud kepedulian RS. Wali Songo I dalam membangun dan mewujudkan masyarakat yang sehat.

Kegiatan bakti sosial ini merupakan bentuk komitmen RS. Wali Songo I untuk memberikan pelayanan kesehatan sekaligus upaya untuk mewujudkan masyarakat yang sehat sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Bakti sosial ini diselenggarakan oleh RS. Wali Songo I bekerjasama dengan Pemerintah Desa Karangsemanding Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik yang notabene adalah lokasi berdirinya RS. Wali Songo I tersebut. Kegiatan ini di laksanakan di Balai Desa karangsemanding pada tanggal 29 Agustus 2014. Terdapat beberapa layanan kesehatan yang digelar dalam bakti kesehatan ini seperti, pemeriksaan kesehatan gratis serta donor darah.(tcjs.sam)